Kamis, 19 Desember 2013

Seleksi 1: Opini Trilogi Negeri 5 Menara

 “Ya Allah, ijinkan anak-anak kami untuk bersekolah di pesantren seperti Pondok Madani”. Ide itu langsung berkelebat dikepala saya dan suami setelah membaca novel Negeri 5 Menara. Kami pun browsing mengenai pesantren di Indonesia, seperti apa kehidupan pesantren, bagaimana caranya mengenalkan semangat pesantren ke anak, hingga ke biayanya. Padahal anak kami masih balita. Luar biasa, betapa sebuah novel bisa demikian menjual dan membuat kita segera bergerak untuk melakukan sesuatu. Bukan sekedar dibaca dan dilupakan. Itu kelebihan Negeri 5 Menara yang utama. Sebuah novel biografi yang penuh inspirasi tentang perjalanan hidup seorang Alif.

Trilogi 5 Menara adalah a must read book for everyone. Benar-benar membuka mata kita mengenai arti Islam yang sebenarnya. Masih banyak orang yang berpendapat bahwa pesantren itu berpandangan sempit, tidak terbuka hingga ekstrim ala teroris. Dengan membaca Trilogi 5 Menara, kita akan kembali diingatkanmengenai esensi dari Islam yang sebenarnya. Trilogi ini mempopulerkan 3 mantra sakti yang telah menginspirasi begitu banyak orang: Man jadda wajada – Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses, Man shabara zhafira – Siapa yang bersabar akan beruntung, dan Man saara ala darbi washala – Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan. Mungkin banyak orang pernah mendengar ketiga petuah diatas, seperti kita mendengar petuah jangan besar pasak daripada tiang, atau bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Namun petuah tersebut lewat begitu saja tanpa pengamalan dari kita yang mendengarnya. Dalam trilogi, petuah tersebut dipraktekkan kedalam suatu cerita perjalanan hidup sehari-hari seorang manusia yang mudah dicerna. Itu yang membuatnya begitu menyentuh dan membuat pembaca akhirnya termotivasi ke arah yang lebih baik. Luar biasa.
Pemilihan bahasa Trilogi 5 Menara – jika dianalogikan sebagai busana - saya nilai sangat casual dan manis. Tidak berlebihan, ringan dan mudah dicerna, sekaligus indah. Alur ceritanya juga sederhana, lurus dan dengan rasa penasaran pembaca yang terjaga. Terkadang ada buku yang begitu bikin penasaran, tetapi karena bahasanya terlalu berat, membuat kita akan langsung pindah ke halaman belakang untuk mengetahui akhir cerita.

Namun sebagai sebuah novel biografi, saya kurang menyukai tokoh Alif yang saya nilai terlalu dilihat dari sisi baiknya saja. Terlebih pada buku ke-3, Rantau 1 Muara. Dalam Trilogi ini, sisi buruk Alif hanya digambarkan dalam kejadian-kejadian tidak menyenangkan yang menimpanya, seperti kekurangan uang, kematian ayahnya atau dikalahkan saingannya. Padahal menurut saya, no body perfect. Setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Seperti biografi Steve Jobs karya Walter Isaacson atau Man of Honour William Soeryadjaya karya Teguh Sri Pambudi dan Harmanto Edy Djatmiko. Kedua buku ini memang bukan novel, tapi menurut saya ia menggambarkan si tokoh apa adanya lengkap dengan kekurangannya. Betapa pemarahnya Steve Jobs atau betapa memanjakan anak dan borosnya William Soeryadjaya, dan itu membuat mereka lebih terasa manusiawi. Berbeda rasanya dengan membaca perjalanan hidup pesanan orang lain seperti yang biasa ditulis oleh Alberthiene Endah. Selalu hanya sisi baiknya saja. Itu membosankan dan tidak realistis.

Atau memang demikianlah cara menulis novel yang baik, dimana tokoh baik akan selalu jadi tokoh baik dan kekurangannya tidak perlu diperlihatkan? Mungkin ini yang perlu dipelajari lebih jauh bersama seorang Ahmad Fuadi.

(488 kata)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar