Kamis, 22 Mei 2014

Paulo Coelho: Sang Alkemis

Judul asli          : O Alquimista (1988),
                          The Alchemist (1993)
Alih bahasa      : Tanti Lesmana
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama, 2005
Halaman          : 216

Ini salah satu kitab suci karya penulis zaman ini!

Menakjubkan membaca bagaimana seorang manusia biasa bisa merangkai sebuah cerita yang memiliki kedalaman makna hidup yang begitu tinggi. Bagi yang suka membuat catatan kecil tentang hal menarik dalam sebuah buku, saya sarankan untuk meninggalkan kebiasaan itu ketika membaca buku ini. Hal yang sia-sia kamu lakukan, alih-alih kamu perlu menyalin seluruh isi buku. Ya, benar, seluruh isi buku! Begitu banyak ungkapan yang sangat dalam maknanya dalam setiap rangkaian kata pada novel yang hingga Mei 2014 bertahan selama lebih dari 300 minggu dalam The New York Bestseller list.

Ketika membaca review buku ini, selalu disebutkan bahwa Sang Alkemis adalah tentang perjalanan seorang anak laki-laki bernama Santiago mencari harta karun di Mesir. Namun setelah saya membaca buku yang membutuhkan waktu 5 jam untuk mengkhatamkannya, saya harus membolak-balik kembali halaman buku ini untuk mencari dimana ada nama Santiago dalam buku ini. Dalam buku ini tokoh utama hanya di sebut sebagai orang ketiga, anak laki-laki itu. Siapa yang menyebut nama anak itu Santiago? Akhirnya saya menemukannya. Hanya 1 kali. Pada kalimat pertama.

Anak laki-laki itu bernama Santiago.

Buku ini benar-benar mengesankan tidak hanya pada 10 halaman pertamanya,  dimana si anak laki-laki penggembala domba mengungkapkan ketertarikannya pada seorang putri saudagar kain yang ditemuinya setahun sebelumnya, namun juga dalam setiap lembar hingga ke halaman terakhir.

Dikisahkan bagaimana ia meminta restu ayahnya untuk berhenti dari seminari yang tengah diikutinya dan berkelana melihat dunia. Baginya ini lebih penting daripada mengenal Tuhan dan mempelajari dosa-dosa manusia (hal 14). Berbekal 3 mata uang emas Spanyol kuno yang dibelikannya domba-domba, mulailah perjalanan si anak laki-laki berkeliling Andalusia (Spanyol).

Setelah setahun berkelana sebagai penggembala, di Kota Tarifa (sebelah selatan Spanyol), si anak laki-laki memutuskan menemui dengan seorang wanita gipsi untuk menafsirkan mimpinya yang berulang. Wanita itu percaya bahwa mimpi itu adalah bahasa Tuhan (hal 19). Ia meminta si anak laki-laki untuk mengejar mimpinya mencari harta karun di bawah Piramida-piramida di Mesir dan memberikan konsultasi gratis asal memberikan 1/10 dari harta karun itu.

Sejenak si anak laki-laki melupakan mimpi itu dan kembali berkonsentrasi pada keinginannya menemui si putri pedagang kain yang jauhnya hanya 3 hari dari Tarifa. Namun pertemuannya dengan Malkisedek (Melchizedek) – Raja Salem, mengenalkannya pada apa yang disebut takdir (Personal Legend).
“Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang ketika masih muda, tahu takdir mereka. Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu.” (hal 30)

Berbeda dengan wanita gipsi, pria tua ini meminta 1/10 dari domba-dombanya untuk petunjuk menemukan harta karun itu.
“Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kaumiliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya.” (hal 34)
Dalam banget kan? Andai saja para calon presiden kita dapat menerapkan prinsip ini sebelum melakukan transaksi-transaksi politik...

“Saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.”
Ini adalah ungkapan yang diulang-ulang dalam buku ini untuk menunjukkan betapa pentingnya untuk mengejar mimpi.

Anak laki-laki itu pun memutuskan untuk pergi memburu takdirnya, mengikuti pertanda-pertanda alam, dan menemukan sejumlah kemudahan yang memuluskan langkah awalnya ini.
“Itu namanya hukum keberuntungan. Orang yang baru pertama kali main kartu hampir selalu menang. Keberuntungan pemula. Sebab ada daya yang menghendaki engkau mewujudkan takdirmu. Kau dibiarkan mencicipi sukses, untuk menambah semangatmu.”(hal 39)

Maka mulailah perjalanan anak itu ke benua Afrika yang jaraknya hanya 2 jam pelayaran dari Tarifa. Setelah mengalami kecurian seluruh hartanya pada hari pertamanya di Tangier (kota pelabuhan sebelah utara Maroko) yang menghancurkan segala mimpinya, ia pun memilih menganggap dirinya petualang yang hendak mencari harta karun. Si anak laki-laki terdampar di kota kecil Ceuta (ternyata ini adalah kota kecil dibawah kekuasaan negara Spanyol namun terletak di benua Afrika, menyempil di sebelah timur Maroko) dan bekerja di sebuah toko kristal. Si penjaga toko (The Shopkeeper) adalah tipikal orang tidak suka perubahan dan takut untuk mewujudkan mimpinya.
“Sebab justru impian hendak pergi ke Mekkah-lah yang membuatku bertahan hidup. Aku takut kalau impianku menjadi kenyataan, aku jadi tidak punya alasan lagi untuk hidup.”
Tidak setiap orang merasa bahagia kalau mimpinya menjadi kenyataan. (hal 72)
“Toko ini besarnya persis seperti yang kuinginkan. Aku tidak ingin mengubah apa pun, sebab aku tidak tahu bagaimana mesti mengikuti perubahan. Aku terbiasa seperti ini.” (hal 75)
“...setelah menyadari betapa luas kemungkinan-kemungkinan yang terbentang bagiku, aku bakal merasa lebih tertekan dibandingkan sebelum kau datang. Sebab aku jadi melihat hal-hal yang sebenarnya bisa kuraih, namun tidak hendak kulakukan.”(hal 76)

Setelah setahun mengumpulkan uang dan berniat untuk kembali menjadi gembala kaya di tempat asalnya, si anak laki-laki kembali menemukan pertanda untuk melanjutkan impiannya yang sempat terkubur. Dalam perjalanan menempuh padang gurun yang luas menuju piramida di Mesir, ia bertemu dengan si orang Inggris (The Englishman) yang mengenalkannya pada sosok Sang Alkemis (The Alchemist). Si orang Inggris ini terobsesi menemukan Sang Alkemis di oasis Al-Fayoum yang ia percaya berumur 200 tahun dan dapat mengubah logam apapun menjadi emas.
“Hanya orang-orang yang teguh hati, dan bersedia belajar secara mendalam, bisa mencapai Karya Agung ini. Itu sebabnya aku sampai berada di tengah-tengah gurun ini. Aku mencari alkemis sejati yang bisa membantuku memecahkan sandi-sandi itu.” (hal 106)

Si pemandu unta dalam rombongan mereka juga menjadi teman mengobrol yang menyenangkan.
“Kalau sedang makan, hanya urusan makanlah yang kupikirkan. Kalau sedang berjalan, aku berkonsentrasi pada urusan berjalan. Kalau aku mesti bertarung, mau mati hari apapun tidak ada bedanya bagiku. Sebab aku tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan. Aku hanya tertarik pada saat ini. Berbahagialah orang yang bisa berkonsentrasi hanya untuk saat ini.” (hal 109)

Setiba di Oasis Al Fayoum (Mesir), dalam pencarian sosok Sang Alkemis bersama si orang Inggris, si anak laki-laki bertemu dengan Fatima, cinta sejatinya.

Sementara si orang Inggris akhirnya bertemu dengan Sang Alkemis yang memintanya pergi dan mencoba.
“Supaya berhasil, aku tidak boleh takut gagal. Takut gagal inilah yang selalu membuatku tidak berani mencoba menghasilkan Karya Agung ini. Sekarang aku memulai percobaan yang seharusnya sudah bisa kulakukan sepuluh tahun yang lalu. Tapi setidaknya aku senang tidak menunggu sampai dua puluh tahun.” (hal 128)

Di saat si anak laki-laki tengah memikirkan tentang cintanya, ia mendapatkan sebuah pertanda yang kemudian disampaikan kepada si pemandu unta. Si pemandu unta menyampaikan pendapat dari seorang peramal masa depan yang pernah ditemuinya.
“Kalau orang-orang datang berkonsultasi padaku, aku bukannya membaca masa depan mereka; aku sekadar menebak. Masa depan adalah milik Tuhan, dan hanya Dia-lah yang bisa mengungkapkannya, dalam keadaan-keadaan tertentu. Bagaimana caraku menebak masa depan? Berdasarkan pertanda-pertanda yang ada sekarang ini. Rahasianya ada pada saat sekarang ini. Kalau kau menaruh perhatian pada saat sekarang, kau bisa memperbaikinya. Dan kalau kau memperbaiki saat sekarang ini, apa yang akan datang juga akan lebih baik. Lupakan soal masa depan, jalani setiap hari sesuai ajaran-ajaran yang telah kau terima, yakinlah bahwa Tuhan mengasihi anak-anaknya. Setiap hari membawa keabadian bersamanya.” (hal 133)

Pertanda itu akhirnya membawa si anak laki-laki menyelamatkan oasis dari musuh sekaligus bertemu dengan Sang Alkemis yang membimbingnya menemukan Tuhan.

Pada dasarnya Sang Alkemis adalah sebuah novel simbolis tentang kehidupan. Terdapat banyak metafora yang menggambarkan perjalanan hidup manusia. Kemampuan untuk menulis tentang kehidupan seperti ini pastinya di dapat Coelho dari perjalanan hidupnya yang luar biasa. Di usianya yang ke 41 tahun – saat ia menuliskan novel ini, Coelho telah menghadapi larangan keras orang tuanya untuk menekuni hobi menulisnya, 3x masuk rumah sakit jiwa bahkan mendapatkan penanganan terapi listrik yang kini dilarang, dipenjara dan mengalami penyiksaan selama menjalaninya, mengalami perpisahan dengan istri pertamanya, kegagalan pada 2 buku pertamanya yang mendapat kritik pedas karena dianggap berkualitas buruk, hingga pergulatannya dengan ilmu Alkimia selama 11 tahun. Karena semua konsep cerita telah ada dikepalanya, Coelho hanya memerlukan waktu 2 minggu untuk merampungkan Sang Alkemis.

Pada awalnya penjualan buku ini tidak terlalu bagus bahkan sempat dihentikan peredarannya oleh sebuah penerbit kecil di Brazil. Namun rupanya semangat Santiago benar-benar menular pada Coelho untuk terus mengejar ‘harta-karun’nya sendiri, dan akhirnya ia berhasil membuat Harper Collins berhasil menerbitkan bukunya. Hasilnya benar-benar luar biasa. Coelho menjadi penulis pertama (yang masih hidup) yang karyanya paling banyak diterjemahkan (56 bahasa) dan bukunya telah laku 65 juta kopi.

Walau bukan novel, Tuesday with Morrie karya Mitch Albom (Doubleday, 1997) adalah buku setipe yang bercerita tentang kebijaksanaan hidup. Namun dalam buku ini pembaca hanya disuguhi oleh kebijaksanaan dari seorang Morrie Schwartz, seorang dosen berusia 78 tahun  di masa-masa akhir hidupnya. Sedangkan dalam Sang Alkemis – yang bisa jadi lebih cocok disebut sebagai buku self-help dibanding novel – kebijaksaan berasal dari sejumlah tokoh cerita dengan berbagai latar belakang.

Sampaikah si anak laki-laki ini ke piramida-piramida di Mesir dan menemukan harta karunnya? Dapatkah ia kembali pada cinta sejatinya? Pertanyaan itu akan tetap menghipnotis kita untuk tetap mengikuti perjalanan si anak laki-laki ini hingga ke kalimat terakhir.  Seperti kata Sang Alkemis:
“Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan bagi si pemula. Dan setiap pencarian diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang.” (hal 170)


(1480 kata)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar