Jumat, 09 Mei 2014

Ramadhan UNdercover Project: Strategi ke-1001 Rita (Revisi)

“Apaan ini Rit?” tanya saya sambil berusaha menahan senyum sekaligus kagum melihat sebuah tabel yang terpasang di sebuah softboard berwarna coklat di dekat komputer Rita, salah satu tetangga sebelah rumah dan teman baik saya.
Sebuah tabel dalam kertas A4 yang diprint rapi. Pada baris teratas dari tabel yang berjudul My Routine itu terdapat kolom yang menunjukkan waktu, nomor, aktifitas dan angka 1 hingga 10 yang sepertinya mewakili tanggal. Dibawahnya tercantum durasi dalam jam ke jam dan aktifitas yang dilakukan pada jam tersebut. Ada contrengan ceklist dan silang dibawah kolom angka 1 dan 2. Dan di baris terbawah terdapat baris bertuliskan Today Score.
“Itu jadwal rutin saya” katanya dengan raut muka seperti tersipu malu.
Jadwal itu cukup detil.
3.00 (1) Bangun
3.00 – 3.30 (2) Tahajud
3.30 – 4.30 (3) Mempersiapkan sahur dan makan sahur
4.30 – 5.00 (4) Sholat subuh
5.00 – 6.00 (5) Menulis
6.00 – 6.30 (6) Jalan pagi
6.30 – 7.30 (7) Mengurus sarapan dan mandi anak-anak
7.30 - 8.00 (8) Sholat dhuha dan aktivitas santai di luar rumah
8.00 – 11.00 Free time
11.00 – 12.00 (9) Menyiapkan masakan siang anak-anak
12.00 -1.00 (10) Sholat zuhur
1.00 – 3.00 (11) Story time dan bobo siang anak-anak
3.00 – 4.00 (12) Sholat ashar
4.00 – 5.00 (13) Memasak untuk buka puasa
5.00 – 5.30 (14) Mandi sore
5.30 – 6.00 (15) Makan malam anak-anak
6.00 – 6.30 (16) Buka puasa, sholat magrib
6.30 – 7.00 (17) Makan malam dan mencuci piring
7.00 – 8.00 (18) Sholat Isya dan tarawih
8.00 – 9.00 (19) Anak-anak minum susu, sikat gigi, dan story time pengantar tidur
9.00 – 10.00 Free time
10.00 (20) Tidur
Terus terang saya agak bingung melihat dalam tabel tersebut terdapat aktivitas rutin bulan Ramadhan seperti Saur, Berbuka puasa dan Tarawih. Padahal saat itu baru bulan Sya’ban, 1 bulan menjelang Ramadhan.
“Kamu sudah menjalankan puasa sekarang?”
“Kamu beneran ini selalu bangun pukul 3?”
“Ini serius kamu kerjakan semua?”
Cecar saya dengan penasaran. Saya kenal Rita sudah lumayan lama. Dan saya tahu dia bukanlah orang yang begitu disiplin. Bahkan lebih tepat dikatakan terlewat santai. Dia jelas bukan morning person yang biasa bangun pagi. Sering kali saya lihat dia tergesa-gesa mengantarkan anaknya ke sekolah dalam kondisi lusuh belum mandi atau terlihat bersantai-santai mengobrol dengan tetangga tanpa batas waktu. Bagaimana ceritanya dia tiba-tiba keluar dengan jadwal seperti ini? Mana dalam 2 hari pertama tampaknya banyak tanda cek dengan angka mendekati 10 pada tulisan di Today Scorenya.
“Ah jadi malu nih, sebenarnya ini jadwal impian”, katanya mulai menjelaskan.
Saya kepingin banget bisa menjalani aktivitas rutin seperti itu. Kamu tahu kan Shan, betapa lemahnya saya soal kedisiplinan mengatur waktu? Benar-benar parah. Akibatnya sangat kacau, hidup saya jadi tidak efektif dan tidak teratur. Kalau dulu waktu masih sendiri mungkin saya saja yang dirugikan, namun sekarang saya punya anak dan suami yang bergantung pada saya. Jadwal makan anak saya sering berantakan karena Mamanya asyik menonton TV atau malas memasak, akibatnya jadi pada rewel dan mengganggu. Belum lagi jika mereka akhirnya jatuh sakit karena keteledoran saya. Pokoknya saya merasa banyak banget ruginya kalau tidak punya disiplin dalam mengatur waktu ini.”
“Ya kenapa tidak kamu jalankan saja, kenapa repot-repot pakai jadwal seperti ini?” tanya saya masih heran.
Mama yang aneh.
“Saya pelupa”, jawabnya singkat
“Hi…hi…, memang….”
“Pelupa yang akut”
“Can’t agree more”
Rita ini memang salah satu teman saya yang mempunyai memori terbatas dalam hal tertentu. Bukan tidak cerdas mengingat dia begitu luar biasa dalam mengingat sesuatu seperti detil buku yang dibacanya dan menceritakan lagi kepada orang lain, namun kalau dilihat dari betapa susahnya dia untuk menghapalkan perbedaan antara kemiri dan ketumbar, kesimpulan memori yang terbatas rasanya tidak terlalu salah.
“Kamu tahu nggak, sesering apa saya buat jadwal ini?, lanjutnya.
“Maksudnya?”
“Memajang jadwal di softboard ini, dan membiarkan orang cerewet seperti kamu melihatnya, merupakan strategi saya yang ke 1001 kalinya”.
“1001 kali?”
“Ya 1001 kali, mungkin lebih. Entah kenapa saya tuh hobi banget menulis rutinitas harian itu. Saya punya banyak versi loh. Setiap kali saya mulai merasakan hidup saya kacau dan berantakan, saya akan mulai menuliskan jadwal rutin tersebut. Jadwal ini ada di notes kecil, diary, kertas lepasan, handphone, hingga tablet saya. Ada yang sekedar tulisan tangan. Ada juga yang dibuat dengan Word yang menggunakan gambar-gambar clipboard yang menarik. Ada versi Excel yang lebih canggih dengan dilengkapi dengan tabel score yang dapat dilihat dalam bentuk grafik. Oh iya, yang saya paling suka adalah jadwal dalam bentuk lingkaran jam. Saya buat 2 lingkaran jam untuk am dan pm, kemudian aktivitasnya saya masukkan sesuai jam. Untuk setiap hari saya punya 1 pasang jam.”
Benar-benar orang yang aneh.
Ada mungkin 5 tahun terakhir saya terobsesi sama jadwal ini. Namun sayangnya saya selalu gagal melaksanakannya. Paling top kesuksesan saya hanya 5 atau 7 hari. Belum pernah lebih dari 1 minggu. Entah kenapa. Padahal saya sudah coba dengan beragam model jadwal. Sampai stress dan frustasi saya dibuatnya. Kalau dilihat diary saya 5 tahun terakhir, atau bisa jadi juga sebelumnya, tulisan rutinitas ini mungkin akan mengisi setiap 2 atau 3 bulan sekali. Selama belum mampu melaksanakannya, saya akan mengulang-ulang membuat jadwal yang tidak pernah ditepati itu. Kalau diary pengarang Negeri 5 Menara bisa menghasilkan Trilogi yang jadi best seller, akan kemana kiranya diary saya yang berisi catatan rutin jadwal impian yang diulang-ulang akan bermuara?”
Mungkin akan jadi template journal harian bagi kaum freak, Rit.
“Bener sih, pasti rada frustasi,” kata saya berusaha mencoba empati melihat mukanya yang mulai agak memelas mengharukan.
Selama ini saya menulis jadwal ini sembunyi-sembunyi. Saya selipkan di dalam jurnal, dalam file yang ber-password, sampai ditempel di balik lemari yang orang lain tidak bisa lihat. Bahkan terkadang, saya sendiri lupa saya taruh dimana.
Pantas saja selalu gagal. Lah dia sendiri lupa.
Saya malu kalau dilihat suami saya, dilihat anak saya yang kritis, dilihat si Bibi yang tengah membersihkan dapur, apalagi kalau sampai dilihat orang lain seperti kamu. Makanya sekarang saya coba lagi strategi ke 1001. Memajang jadwal itu di tempat yang mudah terlihat. Resiko dilihat orang lain, akan menjadi konsekuensi yang mudah-mudahan bermanfaat. Nah berhubung kamu sudah tahu Shan, bantu saya jadi pengawas ya. Bantu saya buat bisa disiplin menepati jadwal itu. Ingatkan saya kalau saya mulai lupa dan malas. Serius Shan, saya bosan gagal terus untuk urusan ini. Saya ingin jadi penulis terkenal dan menginspirasi orang banyak. Tapi bagaimana caranya jika urusan sesederhana ini saja saya belum mampu. Semua penulis hebat itu memiliki kedisiplinan yang tinggi, pekerja keras dan memiliki kemauan yang kuat. Ahmad Fuadi, Habiburrahman El Shirazy dan banyak penulis besar lainnya saya tahu biasa menulis di pagi hari. Kira-kira saya akan kemana kalau saya tetap mempertahankan pola tidur lagi setelah sholat subuh dan baru benar-benar bangun pukul 7 pagi? Rasanya mimpi saya buat memiliki buku yang setara dengan buku mereka hanya akan tinggal mimpi, kalau saya tidak mau berubah juga. Kamu mau bantu saya kan Shan?
Sekilas saya melirik jajaran rak buku disamping komputernya. Diantara jajaran sejumlah novel favoritnya ada sebuah pinggiran buku berwarna putih yang mencolok. Dengan tulisan spidol merah terdapat tulisan My Book. Saya pun tahu, Rita tidak main-main dengan mimpinya. Ternyata tidak semua orang perlu gambar rumah atau mobil mewah didepan cerminnya untuk memotivasi diri.
“Tentu saja Rit, kamu pasti bisa. Apa yang saya bisa bantu?”, entah mengapa rasanya aura semangat Rita mulai menular ke saya. Kalau Rita yang aneh bin ajaib ini bisa punya mimpi yang akan diwujudkannya, saya juga mestinya bisa.
“Bantu periksa jadwal saya itu, ingatkan saya kalau saya mulai malas dan lupa mengisi jadwal. Saya perlu merutinkan hal itu selama 30 hari. Karena yang saya tahu, kebiasaan itu akan terbentuk setelah 30 hari. Mumpung ini masih ada waktu 1 bulan sebelum Ramadhan. Saya ingin menghadapi Ramadhan dengan kemampuan yang telah dipersiapkan dengan baik. Jangan sampai di bulan Ramadhan, di bulan penuh berkah, saya hanya kembali sukses cuma di 7 hari pertama. Targetnya, jika saya sudah biasa dengan kebiasaan baru ini selama 30 hari sebelum Ramadhan, ketika Ramadhan tiba, saya bisa lebih fokus ke arah yang lebih serius.
Maka mulai hari itu saya pun resmi dilantik menjadi pengawas yang akan memperhatikan kemajuan usaha Rita mendisiplinkan dirinya.

Minggu pertama
Saran saya, untuk Rita yang pada dasarnya pola hidupnya berantakan, mulailah dari yang paling sederhana dan paling memungkinkan untuk dilaksanakan terlebih dulu. Tidak perlu 20 kebiasaan itu harus ia lakukan semuanya. Mulailah melatih 5 kebiasaan dulu. Misalnya melatih kebiasaan sholat fardhu 5 waktu diawal waktu. Mengapa sholat fardhu? Ini adalah dasar kedisiplinan dan patokan waktu. Waktu bangun adalah sholat subuh, waktu makan siang adalah sholat zuhur, waktu tidak boleh tidur lagi agar malamnya jangan tidur terlalu malam adalah sholat ashar, magrib adalah waktunya makan malam dan isya adalah patokan untuk persiapan istirahat malam.
Buat orang lain ini mungkin mudah, tapi bagi Rita, ini dapat menjadi modal yang penting baginya sebelum  berusaha menjalani kebiasaan lain yang lebih sulit.
Rita pun setuju. Dengan stabilo kuning, diwarnainya jadwal aktivitas ke-4 untuk sholat subuh, ke-10 untuk sholat zuhur, ke-12 untuk sholat ashar, ke-16 untuk sholat magrib dan ke-18 untuk sholat isya.
Hari ke-1 Sempurna. Pinter banget. Hari ke-2 Lumayan. Hari ke-3 Satu waktu sholat terlewat. Hari ke-4 Bubar semua karena ada ajakan jalan ke mall seharian. Hari ke-5 Masih bubar karena masih kecapaian setelah jalan-jalan kemarin. Hari ke-6 Rita mulai malas mencatatnya. Hari ke-7 Oke, ini waktunya saya menginterfensi mengingat strategi ke 1001 ini pun tampaknya akan kembali gagal dengan mulus.
“Rit, kok kosong? Ayo dong diisi lagi jadwalnya”
You’re not the looser, you have to win this,  urusan begini saja masa tidak mampu, bagaimana mau meraih mimpi lain yang lebih berkelas?tantang saya.
“Terima kasih diingatkan, sepertinya kamu harus lebih intens mengingatkannya Shan” jawabnya malu.
“Bener nih? Siap-siap saya recokin ya.”

Minggu kedua
Rita tidak putus asa dan kembali dengan semangat baru di minggu kedua. Kami mencoba lagi. Pakai doa Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil. Minggu kemarin kenapa target sholat 5 waktu itu gagal? Karena Rita pada dasarnya lemah kemauan dan gampang lupa. Dia perlu orang lain untuk membantunya memotivasi dirinya. Saya pun mulai memasang alarm untuk mengingatkan Rita.
“Rita, azan Bu, Sholat. Jangan lupa ceklist jadwalnya”, sms saya.
Done. Thanks”, sebuah pesan singkat masuk tak lama kemudian.
Kami juga memasukkan 2 target baru pada minggu ini. Yaitu mengerjakan hobinya menulis dan berolahraga pagi. Untuk menulis, saya kira Rita tidak menemukan kesulitan berarti, karena itu memang hobinya. Sementara dalam urusan olahraga, ini agak sedikit bermasalah, karena susah menemukan kata olahraga dalam kamus Rita. Nah berhubung saya sendiri sejujurnya sudah lama memendam niat luhur untuk selalu disiplin berolahraga, maka saya pun memutuskan untuk menjadi teman lari paginya. Ternyata memang benar, kalau kita punya teman, yang susah jadi bisa terasa lebih mudah.
Lumayan, minggu ini nilai today score-nya lebih baik dibandingkan minggu pertama.

Minggu ketiga
Ketidakmampuan menentukan prioritas ternyata juga merupakan kendala berarti. Mana yang lebih penting antara sarapan pagi yang sehat dengan bergosip dengan tetangga? Bisa jadi karena tidak sarapan pagi, otak kita lebih mendukung untuk mencari informasi ‘penting’ dari tetangga selama berjam-jam dengan pembenaran itu adalah sumber materi tulisan yang sangat menarik. Ada-ada saja, padahal apa bedanya jika sarapan dulu, baru bergosip kemudian. Lagipula bukankah bisa cari materi seperti itu dari bahan bacaan atau internet.
Rita ini terkadang memang suka banyak alasan.
Minggu ini target kami lebih kearah masalah rumah tangga, seperti menyiapkan masakan dan mencuci piring sebelum tidur. Buat Rita yang tidak bisa masak dan selalu mengandalkan si Bibi sang Dewa Penolong, tentu saja merupakan kendala tersendiri. Seminggu ini dia mulai rajin mencatat dengan teliti bagaimana cara si Bibi memasak dan berusaha dipraktekkannya keesokan harinya. Dimulai dari beberapa masakan sederhana yang dapat disiapkan dengan mudah di saat Ramadhan.

Minggu keempat
Pada minggu keempat, Rita mulai menjalankan ritual puasa dengan tujuan agar minggu depannya tidak terlalu kesulitan mengikuti kebiasaan baru. Mulai bangun pukul 3 dinihari untuk mempersiapkan makan sahur, hingga melatih mempersiapkan makan untuk berbuka puasa di sore harinya.
Selain itu kami juga memasukkan target baru yang berhubungan dengan pengasuhan anak-anak. Ini memang agak repot. Mendisiplinkan emaknya saja susah, apalagi mengajak anak balita untuk disiplin.
“Sebenarnya ini salah satu motivasi saya Shan. Saya disiplin ini maunya sebagai teladan buat anak-anak.” jelasnya.
Saya tahu kedisiplinan itu penting. Walau tidak mudah. Tapi saya juga tidak mau anak saya menyerah melawan kemalasannya. Saya harus menunjukkan kalau saya bisa ke anak-anak saya. Saya tidak mau mereka memiliki pemikiran, kalau Mamanya tidak bisa disiplin, kenapa juga kami harus disiplin? Mereka harus bisa melihat, kalau Mamanya bisa, mereka juga pasti bisa”.
“Masuk akal…”, kata saya sambil mikir, antara berusaha mencari hubungan sebab akibat dan terpesona.
Sambil berpuasa, target Rita minggu ini adalah mendisiplinkan anak-anaknya untuk makan, mandi dan menidurkan mereka pada jam yang teratur. Walau tidak terlalu mulus, namun sudah mulai terlihat arahnya.

Marhaban ya Ramadhan
Akhirnya Ramadhan pun tiba. Rita telah mempersiapkan diri 1 bulan sebelumnya. 20 kebiasaan baru telah dilatihnya walau belum sempurna seluruhnya. Namun setidaknya tunas rasa percaya dirinya telah tumbuh karena ia mampu mendisiplinkan dirinya, walau dengan bantuan orang lain. Insya Allah ini akan menjadi Ramadhan tersukses buat Rita. Sebagai modal untuk menjalani 11 bulan kedepannya.

For the first time in forever, finally she did it!

(2130 kata)

Catatan tentang tulisan:
1. Saya sangat suka ide drama persaingan antara 2 orang sahabat ini, cuma sayang sampai pagi ini saya belum dapat ceritanya. Tapi sedang terus saya usahakan gali.

2. Untuk illustrasi, sudah saya masukkan di dalam blog saya shantybelajarmenulis.blogspot.com. Yaitu gambar foto illustrasi My Routine-nya Rita dan rak buku Rita yang didalamnya terdapat foto buku karyanya. 

3. Untuk penulisan EYD seperti penggunaan tanda baca, terus terang saya masih bingung. Karena dari beberapa contoh yang saya lihat, ternyata beragam. Sejauh ini saya berusaha belajar dari contoh tulisan dalam buku lain.

4. Untuk gaya bicara, saya masih bingung, antara memilih gaya bahasa yang sehari-hari wajar dipakai orang dengan tujuan terdengar alami – walau jelas tidak EYD – dengan gaya bahasa EYD yang saya kira jarang dipakai orang dalam percakapan sehari-hari.

5. Beberapa masukan teman mengatakan bahwa kalimat Rita terlalu panjang. Saya tidak tahu itu menarik atau tidak menggunakan kalimat panjang. Sementara ini saya usahakan memotong kalimat itu menjadi 2 kalimat yang lebih pendek.

6. Saya tetap merasa penting untuk memasukkan nama si tokoh ke dalam judul, karena menurut saya itu mengundang rasa ingin tahu. Benar apa tidak ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar