Sabtu, 17 Mei 2014

Workshop Menulis Tulis Nusantara 2014

Tahun 2014 adalah tahun ke-3 Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (melalui Ditjen Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain dan Iptek) menggelar kompetisi tahunan Tulis Nusantara. Tema yang akan diangkat tahun ini adalah Kearifan Budaya Indonesia yang Menginspirasi.

Lomba ini pada awalnya diadakan setelah melihat banyaknya minat penulis potensial yang menulis di blog. Diharapkan para penulis ini dapat memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus meningkatkan pertumbuhan produksi buku dari para penulis Indonesia yang saat ini masih dinilai sangat kurang. Dapat dilihat bagaimana Andrea Hirata dengan bukunya Laskar Pelangi begitu menginspirasi sehingga dapat membangkitkan ekonomi sebuah daerah. Menurut sumber dari staf Kemenparekraf sebagai penyelenggara workshop, tahun lalu terjaring sekitar 4000 karya yang diseleksi ketat oleh 6 orang juri.

Kompetisi ini tidak hanya untuk para penulis berpengalaman. Para penulis pemula yang belum memahami cara penulisan akan difasilitasi melalui workshop yang dibantu oleh Nulisbuku.com, PlotPoint dan Penerbit Grasindo. Sebagai pembekalan kepada calon peserta lomba, diadakanlah workshop penulisan gratis di 12 kota di Indonesia yaitu Jakarta (3 Mei 2014), Kendari (7 Mei 2014), Palangkaraya (11 Mei 2014), Gorontalo (14 Mei 2014), Bandung (17 Mei 2014), Magelang (21 Mei 2014), Yogyakarta (24 Mei 2014), Pamekasan (28 Mei 2014), Medan (31 Mei 2014), Riau (4 Juni 2014), Batam (7 Juni 2014), dan Bengkulu (11 Juni 2014).

Keunikan dan originalitas tulisan, penyajian yang dapat menggerakkan emosi pembaca dan teknik penulisan serta kekayaan kosakata yang baik akan sangat dipertimbangkan dalam lomba yang akan memberangkatkan juara 1 dalam setiap kategori untuk mengikuti Writing Gate Away di Beijing Cina.

Untuk Bandung, workshop sekitar 3 jam lebih dilaksanakan di Gedung BKM Jl. Burangrang 17-19 Bandung. Acara yang dibuka oleh staf dari Kemenparekraf di isi nara sumber Arief Ash Shiddiq, pengajar Plotpoint Publishing & Workshop dan Mira Rainayati, editor dari Penerbit Grasindo.

Materi dari Arief Ash Shiddiq
Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan kearifan budaya itu? Mengapa Kearifan Budaya Nusantara menjadi tema yang diangkat dalam lomba tahun ini?

Kearifan lokal itu sebenarnya lebih luas daripada sekedar masalah identitas suatu daerah. Kearifan lokal adalah sebuah metoda pemecahan masalah yang ada pada budaya sebuah daerah. Bagaimana cara masyarakat menyelesaikan masalah mereka dengan nilai yang mereka anut.

Sebuah budaya selalu memiliki nilai yang dianggap penting oleh masyarakatnya. Sebuah nilai baru benar-benar penting jika memiliki 3 hal yaitu perangkat (alat atau tempat), pelaku dan ritual. Misalnya ketika kita bicara bahwa agama adalah nilai penting dalam keluarga. Untuk menguji seberapa penting nilai tersebut, bisa kita lihat apakah kita memang punya perangkat sholat di rumah? Punya tempat sholat khusus dirumah yang tidak boleh digunakan untuk kegiatan lain? Apakah semua anggota keluarga mengamalkan nilai yang sama? Apakah kita melakukan ritual keagamaan secara rutin? Adakah sangsi jika anggota keluarga lalai dalam menjalankan nilai ini? Jika jawabannya banyak yang tidak, tentu pentingnya nilai agama dalam keluarga itu sangat diragukan.

Kearifan lokal itu kemudian dituangkan dalam bentuk cerita. Semua orang terhubung dengan cerita. Cerita itu semestinya menarik, cerdas, menginspirasi dan memiliki nilai lokal Indonesia. Cerita itu pada dasarnya adalah informasi tentang perubahan. Jika tidak ada yang berubah dari awal hingga akhir, itu bukanlah cerita. Cerita itu merupakan jawaban dari pertanyaan HOW? (Bagaimana perubahan itu terjadi?). Cerita itu bukanlah deskripsi yang sekedar jawaban  dari pertanyaan:
What? (apa yang berubah? Berubah menjadi apa?)
When? (kapan perubahan itu terjadi)
Where? (dimana perubahan itu terjadi?)
Who? (siapa pelaku perubahan itu?)
Dan Why? (kenapa berubah?)

Coba perhatikan lirik lagu kanak-kanak Pada Hari Minggu:
Pada hari minggu ku turut ayah ke kota
Naik delman istimewa ku duduk di muka
Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja
Mengendarai kuda supaya baik jalannya

Bandingkan dengan lirik lagu Balonku ada lima:
Balonku ada lima rupa-rupa warnanya
Hijau kuning kelabu merah muda dan biru
Meletus balon hijau. Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat.

Pada lagu pertama disebut deskripsi, bukan cerita. Karena tidak ada yang berubah disana. Sedangkan pada lagu kedua, terjadi perubahan jumlah balon, itulah cerita.

Jadi sebuah cerita seharusnya mengandung informasi:
  •  Bagaimana kondisi awal cerita?
  • Apa yang berubah di akhir cerita?
  • Apa yang terjadi sehingga hal tersebut bisa berubah?
  
Cerita tentang kearifan lokal dapat mengangkat tema seperti:
  • Perubahan pada/dalam kearifan lokal
  • Perubahan jika kearifan lokal berubah
  • Perubahan sebab/akibat dari kearifan lokal
  • Perubahan agar/sehingga kearifan lokal hilang/hadir
  •  Perubahan ketika/sebelum/sesudah/sejak/saat kearifan lokal hilang/hadir/berubah
  • Perubahan dengan/tanpa kearifan lokal
  •  Perubahan andai kearifan lokal hilang/hadir/berubah.
Selain itu, pemateri juga mengajak peserta untuk melatih kemampuan menyusun kalimat yang kuat dengan menulis paragrap pendek.

Tugas pertama adalah menuliskan mengenai perubahan tanpa ada karakter seorang tokoh dalam cerita. Ini cocok untuk foreshadowing dalam sebuah cerita.
Contoh:
Dinding putih, langit-langit putih, dingin, steril, sederhana. Cuma sunyi yang ada di sana, tidak ada detak detik atau dengung apapun. Cahaya pagi masuk lewat jendela besar menerpa dinding dan langit-langit, membuatnya makin terlihat putih, dan membuat debu-debu halus terlihat seperti saling bercengkerama.
Lalu sebuah noda muncul di langit-langit putih, awalnya terlihat pucat, lalu menggelap merah seperti mawar, merah yang makin berkilau, menjadi noda di kesempurnaan putih ruang itu. Lalu merah itu menetes, menyusur dinding dari langit-langit menuju lantai, satu garis berigi-rigi yang menari di atas tekstur cat tembok, menari, menari, sementara debu-debu halus terus bercengkerama dan cahaya matahari semakin jelas membentuk bayangan jendela dan ruangan itu semakin terang.

Dalam 5 menit, peserta di ajak membuat paragrap setipe diatas. Bagaimana merangkai kata untuk menunjukkan sebuah perubahan penting terjadi di dalam ruang. Untuk cerita di atas misalnya adanya perubahan bahwa di lantai atas terdapat sosok mayat ditunjukkan oleh adanya darah yang mengalir di dinding yang semula putih.

Tugas kedua menuliskan paragrap dengan memasukkan karakter yang tidak terlalu penting, namun melakukan sebuah perubahan yang signifikan.
Contohnya penggambaran tokoh binatang yang merusak sebuah dokumen penting atau puntung rokok berubah menjadi api yang mulai membakar tepian hutan.

Tugas 3 menuliskan paragrap dengan memasukkan 1 orang karakter yang berinteraksi dengan dirinya sendiri dan melakukan perubahan besar.
Contohnya saat seseorang memutuskan melakukan bunuh diri.

Karena keterbatasan waktu, peserta diminta untuk melanjutkan latihan dirumah sesuai dengan modul latihan yang telah diberikan.

Materi dari Mira Rainayati 
Sebahagian besar pertanyaan peserta kepada seorang editor sebuah penerbitan terjawab ketika Mbak Mira membagikan 5 lembar kartu pos berwarna menarik mengenai Tertarik Menulis Fiksi?; 5 Cara Menulis Buku Nonfiksi; Rasanya menjadi Penulis = Penuh Warna; 5 Langkah Mudah Menjadi Penulis; dan Naskahmu ada di tangan editor?

Grasindo memiliki pengalaman mengadakan sebuah kompetisi menulis PSA atau Publisher searching for Author dengan mengangkat tema rasa Indonesia beberapa tahun lalu. Saat itu banyak sekali pertanyaan apa itu sebenarnya rasa Indonesia? Cukup banyak cerita yang diangkat oleh para penulis. Ada yang mengangkat cerita bagaimana orang asing melihat budaya kita hingga cerita mengenai bagaimana benturan yang terjadi ketika nilai asing masuk ke dalam keseharian kita.

Dalam memaparkan sebuah cerita, sebaiknya penulis tidak mudah untuk memberikan penilaian benar atau salah. Biarlah penilaian itu diserahkan kepada pembaca.

Terlalu bertele-tele di awal cerita, merupakan masalah klasik penulis pemula. Untuk novel, biasanya editor cukup membaca sekitar 10 lembar pertama, jika ceritanya terasa tidak jelas dan membosankan, akan langsung ditinggalkan. Hal itu juga berlaku pada cerpen. Kekuatan alinea awal sangat berpengaruh.

Untuk buku-buku non fiksi, hal yang sangat berpengaruh adalah trend, manfaat buku, dan daftar isi yang mendukung. Dicontohkan juga bagaimana salah satu buku Grasindo yang pada awalnya tidak terlalu sukses, ketika judulnya diubah, tingkat penjualannya pun melonjak.

Mengenai standar best seller, menurut mbak Mira setiap penerbit memiliki kebijakan masing-masing. Ada yang menyebut sudah best seller jika telah beberapa kali cetak ulang (sekali cetak biasanya sekitar 2000 – 3000 eksemplar), bisa juga baru sekali terbit dan langsung habis dalam waktu 3 bulan sudah dicap best seller, bahkan ada juga penerbit yang sudah mencetak best seller pada cetakan pertama. Cap best seller itu memang cukup mendongkrak pemasaran. Untuk Gramedia, sebuah buku masuk kategori best seller ketika penjualannya mencapai 50.000 eksemplar per tahun. Di toko buku, terkadang penjualan di atas 10 eksemplar perbulan bisa dimasukkan kedalam rak best seller.

Akhir acara, ditutup dengan sesi bagi-bagi buku terbitan Grasindo kepada peserta yang tentu saja disambut dengan penuh antusias. Dan tentu saja dengan pesan “Ditunggu karya terbaiknya, baik dalam bentuk Novel, Cerpen Fiksi & Non Fiksi dan Puisi 7 Juli 2014!”

Info lebih lanjut mengenai Tulis Nusantara 2014 dapat dilihat di FB Tulis Nusantara dan Twitter@tulisnusantara.

(1200 kata)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar