Minggu, 07 Desember 2014

Pertemuan 11: Tema

Berikut ini adalah resume yang dibuat oleh teman AM5M Hatfina Dini. Sayang sekali kalau hanya bulukan dalam tumpukan file.

Pertemuan kemarin kita membahas tema, nih. Tapi, jangan dihubungkan dengan tema yang biasa kita pelajari di materi Bahasa Indonesia, ya! 

Tema ini khusus untuk FIKSI!

Tema: jantung cerita, menurut Nigel Watts.

Menurut Frey/Egri: Tema dirumuskan dalam rumus: Karakter + Konflik + Konklusi (3K)

Terkadang, bisa juga disebut dengan premis.
 
Dari itu semua, Tema bisa disimpulkan menjadi: pernyataan apa yang terjadi pada karakter sebagai hasil dari konflik utama.

Contoh tema dari Bang Fuadi, diambil dari buku yang difilmkan berjudul GodFather. Ada yang sudah pernah baca atau nonton? Tema GodFather yaitu: Family Loyalty Leads to Life a Crime.
Jadi, tema itu dalam bentuk kalimat, teman-teman!

Kenapa kita sampai membahas Tema? Apa pentingnya? Karena tanpa tema, cerita tidak akan memuaskan pembaca, walau ceritanya seru dan ditulis dengan baik.
Ibaratnya saat kalian membaca buku yang bahasanya oke, ceritanya greget, tapi selepas membaca terasa kosong, alias nggak dapat apa-apa.

Tapi teman-teman, Tema dalam fiksi tidak ditentukan dari awal. Bukan seperti mengikuti perlombaan atau menulis untuk tugas, dimana tema jadi garis start kita.
Seperti biasa, saat menulis fiksi, rumus utamanya: Menulislah! Jadi, memang belum ada tema di awal penulisan kita. Kalau Tema fiksi ditentukan dari awal, yang ada kita malah didikte atau dipaksa. Annoying kan, kalau begitu.

Jadi, kapan kita bisa menemukan Tema? Nah, Tema fiksi kita dapatkan di awal penulisan, tengah, maupun akhir penulisan kita. Saran dari pertemuan kemarin, Tema fiksi bisa kita temukan dari draft cerita, dialog-dialog, alasan menulis, dan pada kata yang berulang dari naskah kita.

Ada tiga unsur dalam tema:
a.       Subject Matter: realitas yang tampak (tangible reality)
Contoh pada N5M: Alif yang dimasukkan ke pesantren agar agamanya kuat dan menimba ilmu secara gratis dengan memburu beasiswa. Realita
b.      Thread: Garis perkiraan/plot yang menyatukan cerita.
Permisalan thread itu seperti seorang petualang di hutan yang merekam jejak dengan menautkan benang dari satu pohon ke pohon lainnya.
Satu cerita bisa memiliki banyak thread. Contoh thread: cinta, keadilan, persahabatan, permusuhan, dll. Thread dalam cerita bisa banyak, tapi kita juga harus memilih thread dengan tepat, yaitu yang porsinya tidak terlalu sedikit dalam naskah.
c. Thesis: What the author is saying about the thread summed up in a single sentence.
Tesis juga ibarat kompas, menuju arah yang benar.
Contoh: Kejahatan akan kalah dengan kebaikan.
Kalau kata Bang Fuadi, pentingnya thesis itu ibarat junkfood. Fiksi tanpa thesis seperti junkfood yang renyah, enak, tapi tanpa nutrisi. Tapi pasarnya luas….

Tugas:
  1. Apa thread dan thesis dari Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara?
  2. Analisa proyek pribadi masing-masing. Apa thread dan apa thesis-nya?

1 komentar:

  1. Wah klo fiksi ampun deh..kurang bacanya jd susah cari ide hihi..

    BalasHapus