Rabu, 24 Juni 2015

Tips agar anak tidak tergoda berbuka saat puasa

Pernah tidak punya pengalaman curi-curi buka puasa ketika kecil? Saya pernah. Biasanya sore setelah Ashar adalah saat yang paling menyiksa. Panas menyengat, tenggorokan kering karena main seharian, ditambah godaan wangi masakan Mama di dapur. Wah sempurna deh. Ada kalanya saya berlama-lama berendam di kamar mandi dan ‘tidak sengaja’ ada air yang tertelan.  

Tapi menurut saya godaan terbesar adalah masa-masa menjelang lebaran, dimana Mama punya ritual membuat kue kering lebaran. Wangi kue kering yang baru keluar dari oven benar-benar meruntuhkan keimanan saya yang waktu itu berumur sekitar 7 tahunan. Ada saja kue yang masuk ke mulut saat Mama menugaskan saya memasukkan kue ke toples.

Buat saya lebaran  itu identik dengan kastengel. Kue keju batangan yang diperkenalkan oleh nyonya-nyonya Belanda di masa kolonial (Kaas berarti keju, stengels berarti batangan). Lebaran tanpa kastengel buatan Mama rasanya kurang afdol. Harus buatan Mama! Karena saya sudah pernah mencoba kue sejenis  yang tersedia di toko kue, baik yang murah maupun mahal, rasanya tidak sama dengan buatan Mama. Kastengel buatan Mama is the best. Sayangnya entah karena alasan mempertahankan tradisi, si Mama sibuk atau mahalnya bahan-bahan kue, kastangel buatan Mama hanya tersedia saat menjelang lebaran.

Ritual pembuatan kue lebaran sudah dimulai dari pertengahan Ramadhan. Mama sudah mulai mencicil membeli bahan-bahan kue kering seperti terigu, mentega, gula, telur, keju kraft,  dan lain-lain. Setiap lebaran Mama akan membuat kue kering seperti nastar, putri salju, chocolate chip dan tentu saja favorit keluarga kastangel.

Biasanya Mama memulai buat kue di pagi hari. Mulai dari menyiapkan adonannya. Saya diminta membantu memegang mixer sementara Mama memasukkan mentega, telur, tepung dan parutan keju. Maklum awal tahun 80-an kami belum punya mixer yang ada dudukannya seperti sekarang. Memegang mixer adalah bagian yang paling tidak saya suka dari membuat kue. Pegel.

Setelah cukup mengembang, adonan siap untuk dibentuk. Nah, bagian yang ini saya suka. Adonan diratakan dengan roller diatas plastik yang telah ditaburi tepung terigu. Kemudian dipotong-potong berbentuk batang-batang pendek. Di atas loyang yang telah diolesi mentega, batang-batang kastengels di kuas dengan kuning telur. Rasanya seperti melukis. Asyik sekali.

Bagian terakhir sebelum dibakar di dalam oven, adalah memberi taburan parutan keju kraft cheddar. “Usahakan jangan banyak terbuang dan jatuh-jatuh di loyang,” kata Mama. Mama juga selalu mengijinkan saya membuat bentuk apapun yang saya suka dari sisa-sisa adonan. Walau cetakan kue ketika saya kecil belum sevariatif sekarang, saya cukup senang memanfaat cetakan kue berbentuk pohon, lingkaran, bintang atau bulan. Parutan keju kraft-nya juga tidak dibuat merata, melainkan dibentuk menjadi mata atau ditaburi disekelilingnya.

Kue akan matang setelah Ashar. Tepat di saat saya kelaparan. Padahal saya masih bertugas memasukkan setiap potongan kue dari loyang ke toples. Godaan yang luar biasa. Sepertinya Mama tahu kalau saya suka curi-curi kue dan memasukkannya ke mulut. Jadi selanjutnya Mama merubah strategi.

Acara membuat kue tidak lagi dimulai dari pagi hari, melainkan siang hari setelah Zuhur. Kami menyiapkan dulu berloyang-loyang. Dibakarnya nanti menjelang jam berbuka sehingga bau wanginya mengeruak pas jam buka. Bisa dipastikan loyang pertama yang matang akan langsung habis. Dan Mama selalu berbaik hati membakar loyang kue-kue kreasi saya yang pertama. Spesial buat gadis kecilnya yang telah membantu membuat kue seharian.

Dengan membakar setelah jam berbuka, saya tidak lagi tergoda icip-icip. Waktu menunggu berbuka terasa cepat berlalu karena asyik menyiapkan loyang-loyang kue. Mama memang cerdas!

Sebuah pengalaman indah dimasa kecil yang tak pernah terlupakan. Insya Allah, pada waktunya akan saya pratekkan pada anak-anak tercinta. Apalagi sekarang banyak resep keren yang bisa saya jadikan tradisi dengan anak-anak. Terima kasih Mama!





7 komentar:

  1. Hihihi..saya pernah saya pernah.
    Minum air pas mandi karena sudah nggak sabar nunggu bedug. Hihihi

    BalasHapus
  2. Hihihi..saya pernah saya pernah.
    Minum air pas mandi karena sudah nggak sabar nunggu bedug. Hihihi

    BalasHapus
  3. Suka gak nahan, waktu kue sedang di bakar. Harumnya itu loh... buat perut makin bunyi..hi..hi..

    BalasHapus
  4. setujuuuu bau bakarnya itu lho... #menggoda :)

    BalasHapus
  5. Kastangel klasik emang juara ya mbak

    BalasHapus
  6. Kastangel klasik emang juara ya mbak

    BalasHapus
  7. Hahhaha zaman kecil ya Mbk? aku suka bantu ibuu buat kue itu, dulu gak tau namanya kastagel hahha

    BalasHapus