Sabtu, 29 Agustus 2015

Oleh-oleh Seminar Awam Membentuk Kepribadian Anak Kreatif & Islami


Acara keren ini diselenggarakan dalam rangka Milad ke 25 RS Al Islam Bandung pada 29 Agustus 2015 di Aula RS Al Islam Jl. Soekarno Hatta Bandung.

Sebenarnya ada handout lengkap dari seminar ini dan berbeda dari catatan yang saya buat. Catatan ini sekedar beberapa point menarik yang saya tangkap. Berikut sedikit oleh-oleh dari seminar murah meriah yang tidak murahan.

Materi dr. Lia Marlia tentang Tumbuh kembang anak dalam perspektif pediatri:

- Agar anak optimal pertumbuhan dan perkembangannya, penting untuk orang tua mencermati kebutuhan dasar anak yang mencakup Asuh, Asih dan Asah.

- Asuh: nutrisi, imunisasi, masalah kesehatan, pakaian, tempat tinggal, sanitasi lingkungan dan gerak jasmani.

- Asih: kasih sayang, rasa aman, harga diri, kebutuhan untuk sukses, mandiri, dorongan, kesempatan dan pengalaman.

- Asah: menstimulasi anak dengan pendidikan informal di rumah, formal di sekolah dan non formal di tempat kursus/les.

- Perkembangan dan pertumbuhan ini harus selalu di monitor agar bisa di deteksi dini jika terdapat gangguan.

- Masalah yang menarik adalah mengenai imunisasi. Karena sejak imunisasi dibebaskan, masyarakat cenderung memilih tidak diimunisasi. Sehingga wabah seperti campak, polio atau difteri yang lama tidak terdengar, mulai muncul di daerah yang serapan imunisasinya kurang.

Isu imunisasi tidak halal itu sebenarnya tidak benar. Di Arab saja, imunisasi itu wajib lengkap (jika tidak, bisa dideportasi) dan gratis semuanya.

Materi Psikolog Lilis Komariah tentang Peran Orang tua dalam menciptakan anak kreatif:

- Untuk menyiapkan anak KREATIF dan islami diperlukan: Keyakinan agama yang kuat, Relaksasi, Emosi yang stabil, Adjusment menyesuaikan diri dengan lingkungan, Tanggung jawab, Insan mandiri, dan objekTif serta kritis dalam menyikapi masalah.

- Hindari jebakan pola rutinitas. Jalan ke mesjid aja disuruh berbeda datang dan pulang.

- Ajarkan anak untuk mandiri sejak dini. Jangan biasanya melayani anak berlebihan. Imam syafii 9 tahun sudah jadi imam besar.
Nggak usah sibuk ingin negara islam, coba urus anak sendiri saja terlebih dulu.

- Sayang anak itu bukan memanjakan anak dan melayaninya bagaikan majikan.

- Ajarkan anak untuk jangan banyak tergantung pada orang tua. Allah lah tempat bergantung. Yakinlah Allah yang akan melindunginya.

- Masalah yang kita hadapi sehari-hari jangan dikeluhkan karena bisa menjadi sumber kreatifitas

- Kewajiban anak itu mengikuti aturan ilahi, hormat dan sopan pada orang tua (bukan selalu menurut ya, karena orang tua mungkin saja salah), dan bertanggung jawab atas pilihannya.

- Membandingkan bukan cara memotivasi yang baik. Ibu juga nggak mau kan kalau dibandingkan dengan wanita lain yang lebih baik?

- Diam dulu saat emosi. Jangan pegang atau peluk anak, karena khawatir masih emosi.

Materi Kak Andi Yudha Asfandiar tentang Menyiapkan anak kreatif yang islami

- Berurusan dengan anak tidak hanya pakai otak tapi juga pakai hati. Harus sabarrrrrrr.

- Biasakan untuk mendengarkan dulu, catat biar nggak lupa, dan lakukan. Quran itu catatan. Orang islam harus biasa mencatat.

- Kreativitas itu untuk yang baik. Koruptor yang tidak tertangkap itu bukan kreatif.

- Kenalkan anak tentang inspirator dan role model yang baik. Ada kasus anak kelas 6 SD favorit di Bandung tidak kenal para mantan presiden dan pahlawan nasional.

- Hapalan itu mengurangi kreativitas.


- Keluarga sering terlalu banyak menuntut daripada menuntun. Berharap anak ideal padahal dia tengah berproses dan belajar dari kesalahan.

- Berawal dari percaya diri - menghasilkan keberanian - tercipta pengalaman positif - meraih sukses - dan percaya diri pun meningkat

- Beri anak lingkungan yang menyenangkan. Ubah interior agar anak nggak bosan dan merasakan suasana baru.

- Beri kesempatan anak berpendapat. Biar mereka belajar dari kesalahannya.

- Beri lebih banyak pujian positif dibandingkan kritik. Tapi jangan lebay juga.

- Kurangi kata pokoknya...

- Jangan ngulang-ngulang ngomel yang sama. Apalagi kalau akhirnya tidak konsisten. Ngomel marahin anak minta mainan melulu, tapi akhirnya tetap ngasih juga.


Semoga bermanfaat!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar