Kamis, 24 Desember 2015

Oleh-oleh dari Launching Buku Bunda Produktif

Launching buku ke-4 Institut Ibu Profesional berjudul Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki (J&J Publishing, 2015) di Bapusibda Bandung, diselenggarakan bertepatan dengan Hari Ibu 22 Desember 2015 yang juga ulang tahun ke-4 Institut Ibu Profesional (IIP). Sebuah ontologi dari 25 ibu-ibu yang tersebar di berbagai kota, berbagi pengalaman di tatar produktif bagi orang lain diluar keluarga. Mereka berbagi cerita bagaimana menemukan passion-nya dan menggunakan passion itu untuk membantu mencari nafkah keluarga, menyalurkan hobi dan membantu orang lain.

Sebagai tradisi, IIP selalu meluncurkan buku dalam setiap perayaan ulang tahunnya. Pada ulang tahun pertama, keluar buku Hei, Ini Aku: Ibu Profesional (Leutikaprio, 2012) berisi kumpulan 31 tulisan pengalaman para ibu-ibu yang bergabung dengan IIP. Pada ulang tahun kedua diluncurkan buku Bunda Sayang, 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak (Gazza Media, 2013) yang selain berisi pengalaman para ibu, juga dilengkapi dengan kumpulan materi kuliah Bunda Sayang yang disampaikan Bu Septi Peni Wulandani. Dan pada ulang tahun ke-3 terbit buku Bunda Cekatan, 12 Ilmu Dasar Manajemen Rumah Tangga (Gazzamedia, 2014) dengan format yang sama seperti buku kedua.

Ternyata dalam seri buku ketiga Bunda Produktif, formatnya menjadi agak berbeda dengan 2 buku sebelum. Bahkan bisa dibilang mirip dengan buku pertama. Kompetisi menulis yang diumumkan di blog Ibu profesional pada Oktober 2014 - Januari 2015 berhasil menjaring 32 artikel pilihan. Dimana ada 5 artikel dari 4 kontributor asal IIP Bandung. 

Dalam acara launching buku ini, kami berkesempatan mendengar langsung cerita dari 3 kontributor dari IIP Bandung, yaitu Isti Khairani dengan Bumi Inspirasi Learning Center, Shinta Rini dengan Toko Souvenir Korea Saranghae, dan Ade Seruni dengan bisnis pulsa & tokennya.

Dipandu oleh MC keren Thasya Sugito, kita diajak untuk ATM – Amati, Tiru, Modifikasi sepak terjang ketiga kontributor ini.


Isti Khairani

Bermula dari kegalauan saat mendengar ceramah tentang “Dosa Riba” yang di dengar saat menjalankan rangkaian ibadah haji tahun 2012, lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung ini memutuskan untuk resign dari bank BUMN tempatnya bekerja selama 9 tahun. Setelah sebelumnya lebih dari 12 jam waktu habis di kantor dan hanya menyisakan 4-5 jam waktu bersama keluarga, kini Isti memilih untuk menghabiskan waktu 12 jamnya bersama anak-anak dan 4-5 jam waktu produktif.

Isti mulai mengembangkan Bumi Inspirasi Learning Center dengan tujuan menjadikan rumah sebagai tempat berbagi ilmu kecerdasan finansial yang memang passion-nya sejak awal, menjaga kebersihan lingkungan dengan menggagas Bank Sampah dan Taman pendidikan Al Quran.

Bank Sampah Bumi Inspirasi yang baru dinobatkan sebagai Bank Sampah terbaik sebandung raya ini memang unik. Siapa bilang buat usaha, kita yang harus jungkir balik sendiri banting tulang untuk membesarkan usaha. Di Bank Sampah Bumi Inspirasi, Isti mampu menggerakkan para anak muda dari kalangan pra sejahtera di sekitar lingkungannya untuk diajak mengelola Bank Sampah. Dengan semangat untuk menjadi lebih baik, kini anak-anak muda ini telah mampu menjadi pengelola Bank Sampah dan mengajarkannya ke berbagai tempat.

Ibu dua putri usia 5 dan 1,5 tahun ini mengajak untuk membangun impian dengan DNA – Dream n Action. Dimulai dari menetapkan impian (diri sendiri, keluarga, masyarakat, ibadah). Kemudian menyusun action dan menetapkan ukuran pencapaian. Terakhir adalah melakukan evaluasi. Insya Allah impian terwujud. Mari kita intip kunci sukses Mompreuneur ala Isti.

1. Menetapkan impian
  • Miliki impian besar. Dream – Pray – Share – Action!
  • Selaraskan impian tersebut dengan pasangan dan orang tua.
  • Positifkan kata-kata dan yakinkan diri
  • Mulailah dari passion yang kuat
  • Niatkan untuk ibadah dan untuk kebermanfaatan. Karena jaminannya adalah pahala dunia dan akhirat.

2. Menyusun Action
  • Pantaskan diri dihadapan Tuhan dengan berdoa, melipatgandakan ibadah dan memperbaiki diri
  • Pastikan bahwa nasabah prioritas adalah anak dan suami. Bentuklah home team yang mendukung.
  • Mulai bisnis dengan mempelajari ilmunya. Bangunlah relationship dengan orang-orang yang mendukung. Semangat untuk belajar dan bersilahturahmi.
  • Bentuk personal branding. Jangan ragu dan malu untuk memperkenalkan diri pada orang lain.
  • Bangunlah team yang kuat dengan mengembangkan sikap open mind, mau belajar, diskusi dan kerjasama.
  • Jangan memulai bisnis dari utang. Carilah investor untuk bekerja sama dengan memberikan track record keuangan yang baik. Pisahkan keuangan pribadi dan keluarga. Biasakan untuk mencatat pengeluaran keluarga. Cukup sekitar 3 bulan untuk melihat polanya. Setelah itu kita cukup mengatur budget sesuai posnya.
  • Ciptakan home office yang nyaman
Isti memiliki ruang kerja di rumah. Jam paling produktifnya adalah pukul 8.00-12.00 saat anak-anak sekolah. Ketika anak sedang di rumah, sebelum mulai berangkat ngantor dengan membawa tas kerja lengkap, minta ijin dulu ke mereka. Pastikan urusan anak dan rumah sudah beres dulu. Ilmu soal ini, silakan buka lagi buku Bunda Sayang dan Bunda Cekatan ya.
  • Susun jadwal dan catat.
Ini juga salah satu obat buat orang yang banyak keinginan tapi bingung melaksanakannya. Dengan dicatat dan menyusun prioritas, langkah kerja kita jadi lebih terarah. Jangan dibiarkan mengalir begitu saja.
Isti mencontohkan setelah satu kegiatan terlaksana, bisa dijeda dengan bermain dulu dengan anak untuk merecharge energi sebelum melanjutkan ke kegiatan selanjutnya.

3. Menetapkan ukuran pencapaian
Tentukan batas waktunya dan target yang ingin dicapai

4. Melakukan Evaluasi
  • Munculkan kepedulian bahwa bisnis kita merupakan refleksi jiwa kita pada lingkungan, sosial dan masyarakat.
  • Teruslah belajar dan berbagi ilmu
  • Berdoa, berusaha dan tawakal
  • Senantiasa bersyukur.

Siap mewujudkan mimpi ibu-ibu? Tapi sabar dulu, jangan sekarang. Mari kita dengar dulu paparan dari 2 pembicara lainnya.

Shinta Rini

Pengalaman 5,5 tahun mendampingi suami S3 di Busan Korea Selatan dan harus hidup dengan beasiswa terbatas membuat Shinta memutar otak untuk menambah penghasilan keluarga.
Karena tidak memiliki waktu melanjutkan usaha catering makanan Indonesia bagi para mahasiswa setelah melahirkan putra ke-2, Shinta memilih membantu teman menjadi guide bagi teman-teman yang berwisata ke Korea. Dari situ mulailah ia berkenalan dengan pernak pernik cendera mata dan kemudian membuka bisnis online Toko Souvenir Korea Saranghae. 

Shinta bersama anak dan bunda.
Kok sempat sih berbisnis sambil urus anak yang masih kecil?

"Pastikan anak beres dulu dan makanan siap sebelum memulai sibuk berbisnis", kata ibu 2 anak usia 8 dan 2 tahun ini. Perbedaan waktu sekitar 2 jam antara Indonesia dan Korea, seringkali membuatnya harus begadang melayani pembeli. Pengalaman jatuh sakit karena kurang istirahat membuat Shinta jadi belajar lagi mengenai manajemen waktu dengan disiplin menutup toko dan tidak melayani pembeli sepanjang waktu.

Liputan pada Muslim Traveller di Net TV, lumayan mengukuhkan Shinta sebagai celebrity di IIP Bandung sekaligus mempopulerkan Toko Online Shop Saranghae. Dalam tayangan itu kita bisa lihat bagaimana Shinta berbelanja souvenir sambil menggendong putranya di punggung dan mendorong stroller berisi barang dagangan. Perjuangan Magister Psikologi Unpad ini selama berbisnis di Korea bisa dibaca lengkap dalam buku Bunda Produktif.

Shinta juga adalah adalah kontributor di buku Bunda Sayang sekaligus Editor dalam buku Bunda Produktif. Ia telah menulis 8 ontologi dan memiliki kebiasaan membaca 1 buku per minggu. Kebiasaan keren yang perlu ditiru!

Ade Seruni

Mungkin kita akan menilai apa yang keren dari bisnis pulsa dan token dari seorang ibu rumah tangga. Tapi pada kesempatan ini, mantan asisten apoteker Hermina ini berbagi cerita mengenai pengalamannya menemukan kunci keberhasilan pembuka rejeki. Apa itu?

Pertama adalah meluaskan niat. Tujuan bisnis untuk sekedar mencari keuntungan pribadi adalah bentuk niat yang sempit. Ketika niat itu diluaskan dengan tujuan untuk bisa membantu orang lain, ternyata Insya Allah rejeki tidak akan kemana. Bermula dari niat membantu saudara, usaha bisnis pulsa Seruni berkibar sedikit demi sedikit lama lama jadi bukit. Padahal saat itu banyak usaha sejenis yang malah gulung tikar karena untungnya yang sangat sedikit.

Keinginan tidak akan terwujud jika hanya sekedar keinginan. Jadikan keinginan menjadi sebuah kebutuhan. 

“Saya berniat untuk sedekah setiap Jumat.” Keinginan itu Insya Allah akan terwujud jika kita butuh untuk sedekah setiap Jumat.

Kedua adalah ikhtiar iman maksimal. Jadi janganlah memberhalakan ikhtiar maksimal di bumi saja. Tapi pastikan juga ada kata iman yang mencerminkan ikhtiar langit. Tanpa itu kita akan lelah dalam berbisnis.
Yakinlah Allah akan selalu mencukupkan hidup kita. Kalau selalu merasa kurang, pasti ada yang salah. Coba di cek lagi niatnya. Apakah masih memiliki niat yang sempit atau luas?

Ada satu lagi tips menarik untuk mengatasi stress dari Seruni. Kalau kita sudah mulai marah-marah karena hal-hal sepele, itu artinya kita perlu pembersihan emosi. Coba untuk minta pengertian pasangan untuk membantu keluar sebentar dari rutinitas. Bisa dengan tidak memasak dan mengurus rumah dalam sehari itu, menulis diary atau mungkin mewarnai buku coloring book for adult yang sekarang lagi nge-trend.

Setelah terpesona mendengar paparan 3 ibu keren diatas, lantas muncul pertanyaan. Apa yang sama dari mereka bertiga?

Mereka produktif dan mengerjakan hal bermanfaat bagi banyak orang. So what? Wanita sejuta umat juga melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih hebat. Tapi bedanya adalah mereka menuliskan pengalaman mereka itu dalam sebuah buku. Mereka merekam sejarah yang bisa bermanfaat dan menginspirasi orang lain untuk bisa lebih baik. Tanpa ditulis, pengalaman mereka mungkin hanya akan diketahui oleh segelintir orang dan menguap dalam waktu yang tak lama.

Ajang Kopdar

Selain sebagai ajang kopdar para anggota IIP aktif yang tergabung dalam 5 grup WhatsApp, pada hari ini juga dilantik kepengurusan baru IIP Bandung 2016. Sayang sekali pelantikan terpaksa diwakilkan karena Ketua baru terpilih Nisa Nurarifah (Nca) berhalangan hadir karena masih dalam masa penyembuhan.

Karena sekarang trendnya bukan lagi Learning by doing, tapi Learning by teaching, pada kesempatan ini juga disampaikan mengenai pembentukan Rumah Belajar (RB) baru di IIP Bandung sebagai wadah untuk para ibu belajar bersama. Ada Rumah Belajar Menulis bersama Shanty Dewi Arifin (iya, saya maksudnya), Rumah Belajar Memasak, dan Rumah Belajar Menjahit bersama Ai Santiani.

Semoga Institut Ibu Profesional di Bandung khususnya, bisa selalu menjadi wadah bagi para ibu untuk mengembangkan diri menjadi Bunda yang di Sayang keluarga, Bunda yang Cekatan dalam rumah tangga, Bunda Produktif bagi masyarakat di sekitarnya dan Insya Allah Bunda Sholehah. 


Selamat Ulang Tahun ke-4 Institut Ibu Profesional. 
Be Profesional, Rejeki will follow.

Grup IIP Bandung 2


5 dari 9 Koordinator IIP Bandung 2. 




6 komentar:

  1. Teh Shanty, Oleh-olehnya lengkap. Membantu saya yang hadir di tengah acara.. Hatur nuhun.. Dan Salam Kenal...
    Saya baru memulai menulis kembali.. Kembang kempis tulisannya.. Apalagi dalam 5 bulan terakhir belum ada progress signifikan.. Alhamdulillah dengan membaca artikel ini dan kemarin sempat ada rencana akan ada RB menulis bareng teh Shanty, jadi booster untuk pribadi.. Moga bisa aktif lagi dalam menulis.. Minimal One Day One Postnya bisa berjalan konsinten..
    :)

    BalasHapus
  2. MasyaAllah buda-bunda produktif, semoga bisa menular ke ibu-ibu yang lain. Sangat menginspirasi. Mari berbagi bersama kami Belajar Menulis dengan berbagai ciri khas masing-masing

    BalasHapus
  3. MasyaAllah buda-bunda produktif, semoga bisa menular ke ibu-ibu yang lain. Sangat menginspirasi. Mari berbagi bersama kami Belajar Menulis dengan berbagai ciri khas masing-masing

    BalasHapus
  4. makasih share nya mba, asik ya kalau ikut acara seperti ini bisa nambah ilmu

    BalasHapus
  5. keren sharenya mba , saya jadi terinspirasi ibu-ibu keren IIP,salam semoga bisa berjumpa

    BalasHapus