Minggu, 20 April 2014

Review Pertemuan 1: Perjalanan Penulisan Buku Negeri 5 Menara

“Memangnya bisa?”

Itu adalah jawaban Danya “Yayi” Dewanti, istri A.Fuadi, ketika ia menyampaikan niatnya untuk menulis sebuah novel tentang perjalanan kehidupan di sebuah pesantren. Pertanyaan ini terlontar karena Fuadi bukanlah seorang pembaca novel, sedangkan sebaliknya, sang istri adalah pembaca novel yang tahu betul dimana letak kesulitan membuat novel. Terutama bagi seorang yang sebelumnya hanya terbiasa menjadi penulis reportase.

Perbedaan yang utama antara penulis reportase dan novelis adalah unsur emosi. Kita tidak boleh memasukkan unsur emosi ke dalam sebuah liputan berita, berbeda dengan novel dimana unsur emosi menjadi energi utama yang menghidupkan cerita.

Maka mulailah proyek ini dijalankan, 2 tahun sebelum bukunya terbit di tahun 2009. Mbak Yayi, khusus menghadiahkan sebuah buku yang dibelinya di Singapura, Writing a Novel karya Nigel Watts. Pulang kampung pun dilakoni untuk membongkar arsip lama berupa setumpuk diary yang ditulis sejak SMP. Banyak detil cerita dan emosi yang dapat digali dari sana. Berkat jasa Amak, didapatkan pula sekumpulan surat yang dikirim dari Gontor, bahkan dengan penomoran yang runtut.  Selain itu, ia juga berkeliling menemui teman-teman dan menyampaikan ide menulis novel yang akan mengangkat kehidupan pesantren. Banyak orang yang mendukung dengan turut memberikan masukan berharga. Foto-foto dan buku catatan bertulisan tangan juga menjadi referensi penting.

Bagi yang ingin menulis buku namun belum pernah mengalami atau mengunjungi lokasi yang ingin diceritakan, yang dapat dilakukan adalah dengan browsing di internet, melihat video yang diunggah di You Tube atau mewawancari orang yang telah mengalami.

Buku Negeri 5 Menara ditulis semasa Fuadi bekerja di NGO konservasi internasional, The Nature Conservancy. Waktu untuk menulis adalah sekitar 1 jam setelah subuh dan jika tidak lelah, bisa dilanjutkan sebentar disaat pulang kerja di malam hari. Dengan cara seperti itu, buku sepanjang 90.000 kata ini dapat ditulis dalam waktu sekitar 1 tahun. Untuk menjaga alur cerita dan mood-nya terjaga selama 1 tahun itu, ternyata ada kiatnya.

Apa Rahasianya?
Penulis kelahiran 1972 ini membuat Mind Mapping tentang buku yang akan ditulisnya (lebih lanjut tentang mind mapping bisa baca bukunya Tony Buzan). Semua ide besar dan alur cerita dari awal sampai akhir telah dituangkan ke dalam sebuah kertas besar yang ditempelkan di depan komputer. Kapan saja akan menulis, tinggal melihat pada mind map tersebut dan mengembangkannya. Selain Mind Map, yang tidak boleh ketinggalan adalah Kamus dan Thesaurus (kamus padanan kata). Amunisi tambahan lain yang juga tidak kalah penting adalah sejumlah buku mengenai menulis novel seperti: How to Write a Damm Good novel karya James N.Frey; Characters, Emotion & Viewpoint karya Nancy Kress; Writing Down the Bones karya Natalie Golberg; Aspects of the Novel karya E.M. Forster; Becoming a Writer; Revision and Self editing karya James Scott Bell. A to Z nya menulis novel ada dalam buku-buku tersebut.

Setelah menulis rampung sekitar 75%, mulailah kasak-kusuk mencari penerbit. Menurut penelitian yang dilakukan, ada 2 penerbit besar di Indonesia yaitu grup Gramedia dan Mizan. Penerbit besar memiliki jaringan pasar yang kuat dan sistem yang telah teruji, namun tentu saja proses seleksi buku menjadi sangat ketat dan butuh waktu lama. Untuk mengetahui apakah buku kita akan diterima atau tidak oleh sebuah penerbit, umumnya diperlukan waktu minimal 3 bulan. Untuk menyiasatinya, mantan wartawan Tempo dan VOA ini memulai dengan menghubungi orang yang pengalaman menulis buku di penerbit besar. Orang tersebut menyarankan untuk sebaiknya mengenal orang dalam, karena proses seleksi buku itu sangat ketat dan butuh waktu lama. Setelah mendapatkan e-mail seorang editor, ia pun mengirimkan karyanya kepada editor tersebut. Beberapa bab penting dikirimkan tidak hanya kepada 1 penerbit, namun 2 penerbit  besar sekaligus. Menurutnya tidak ada salahnya untuk mencoba hal itu. Mungkin karena konten cerita yang kuat dan menarik, pagi naskah dikirim, siangnya ada telpon bahwa mereka tertarik untuk menerbitkan Negeri 5 Menara. Dari kedua penerbit!

Editor itu sebenarnya kesulitan juga membaca tumpukan naskah, jika ia mendapat rekomendasi sebuah buku yang menarik, tentu itu yang akan dia utamakan. Rekomendasi dari penulis-penulis besar juga cukup di dengar. Iwan Setyawan dengan bukunya 9 Summer 10 Autum juga merupakan salah satu contoh buku yang di endorse lulusan Hubungan Internasional Unpad ini.

Dalam dunia penerbitan, bertemunya konten cerita yang unik, tim marketing yang hebat, moment yang pas sangat mempengaruhi kesuksesan sebuah buku. Pada penerbit besar, buku kita menjadi seperti berada pada ban berjalan. Setelah proses seleksi yang ketat, buku kita akan diterima, diedit, dicetak, dipasarkan dan selesai. Proses ini bisa jadi sangat cepat dan tidak terasa buku kita pun tenggelam. Tim marketing ini juga sangat berpengaruh. Dengan tim yang terbatas (Gramedia memiliki sekitar 10 orang untuk tim ini),  dan begitu banyak buku yang harus terbit, mereka akan menyeleksi ketat mana buku yang perlu di dukung dengan sepenuh tenaga, dan mana yang tidak.

Setelah mendapat persetujuan bahwa bukunya akan diterbitkan oleh penerbit, scholarship hunter ini minta waktu untuk menyelesaikan novelnya beberapa bulan. Setelah itu novelnya ini di berikan kepada sekitar 20 orang dengan berbagai latar belakang untuk mendapatkan masukan. Disini perlu keluasan hati dari seorang penulis untuk menerima kritik. Terkadang kita akan marah ketika tulisan kita dikritik oleh orang yang mungkin saja kita anggap tidak bisa menulis atau bisanya hanya sekedar menulis status facebook saja. “Siapa elu?, berani-beraninya komentarin jelek tulisan gua”. Namun bagaimanapun juga, kita harus sadar, bahwa itu adalah representasi pembaca dari berbagai kalangan. Penting untuk melatih kemampuan mencairkan ego penulis dengan berlatih menerima masukan orang lain. Penulis memang perlu untuk menerima masukan dari khalayak untuk memperkaya tulisannya. Seperti beberapa kritik  yang menilai tulisan Negeri 5 Menara terlalu kaku, karena pada dasarnya Fuadi bukanlah penulis sastra dengan bahasa mendayu-dayu.


Menurut  A.Fuadi, Writing is art and craft.
Craft adalah keterampilan penulisan yang dapat dipelajari siapa saja. Sedangkan art adalah seni yang masih misteri karena disana ada yang disebut sebagai keberuntungan, bakat dan kerja keras. Ini tidak ada teorinya.

Setelah 3 bulan buku terbit, mulailah ada PH yang menghubungi dan ingin mengangkat Negeri 5 Menara ke film. Menurut Fuadi, membuat buku itu seperti melahirkan bayi. Kita lahirkan, kita besarkan, kita sayang. Dan ketika hendak dibuat film, itu seperti memberikan bayi kita kepada orang lain. Bisa jadi salah asuhan dalam tangan orang lain. Makanya ada perasaan berat untuk melepasnya. Namun tawaran tetap datang hingga 7 PH yang berminat. Akhirnya mulai berpikir ulang mengenai manfaat memindahkan media buku ke media film. Buku Negeri  5 Menara terjual sekitar 400.000 buku, jika dianggap 1 buku dibaca 5 orang, paling hanya 2 juta orang Indonesia yang membacanya. Padahal penduduk Indonesia lebih dari 200 juta orang. Hanya 1%! Jika pindah media ke film, bisa jadi akan dinikmati oleh lebih banyak orang. Maka akhirnya disetujuilah pembuatan film tersebut. Perpindahan media ternyata juga penting. Negeri 5 menara tidak hanya dibuat dalam bentuk buku dan film, tetapi juga dibuat versi bahasa Inggrisnya, dipindahkan kepada media komik hingga ke game.

Ketika syuting film di Gontor sekitar tahun 2011 yang melibatkan sekitar 1000 figuran dan 100 kru dari Jakarta, terjadi hiruk pikuk di lokasi. A. Fuadi pun merenung di pojokan. Orang-orang ini ngapain saja ya begitu repot dan heboh. Mengapa? Hanya karena segores kata yang dituliskan. Segores kata yang dituliskan bisa begitu luar biasa efeknya. Bukan hanya bagi penulisnya, namun juga bagi begitu banyak orang.

Kata itu lebih powerful daripada peluru. Ia bisa menginformasikan sesuatu, menginspirasi, menggerakkan orang. 1 peluru hanya bisa menembus 1 kepala, namun 1 buku bisa merasuk kejutaan kepala selamanya. Melintasi zaman dan generasi. Penulis itu umurnya panjang, selama tulisan kita dibaca orang, selama itulah panjang usia kita. Menulis dari hati akan sampai ke hati.


Hanya karena segores kata yang dituliskan.

(1216 kata)
Tulisan ini merupakan hasil rangkuman saya terhadap sejumlah pertanyaan peserta Akademi kepada Bang Fuadi pada pertemuan pertama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar