Pertemuan 6: Setting

Pertemuan setelah 5 minggu tidak bersua ini dimulai dengan Bang Fuadi menyampaikan mengenai hasil evaluasi kedisiplinan peserta AM5M, kewajiban piket (akan dibuat ceklist apa yang perlu disiapkan petugas piket oleh Rendy), program sharing  rutin materi yang berhubungan dengan penulisan dari peserta di setiap pertemuan, mengingatkan surat pernyataan penulis RUN bagi yang belum mengumpulkan, acara mengikuti aktivitas penulis, sampai ke evaluasi proyek RUN.

Hari ini kami masuk ke pembahasan mengenai setting dalam sebuah cerita fiksi. Setting itu bagaikan tepung dalam kue. Bukan yang terpenting, tapi tanpa tepung kue tidak akan jadi. Setting itu anchor/jangkarnya cerita. Ia membumikan suatu cerita.

Story telling is picture painting with words. Bagaikan pelukis yang menggambarkan suatu tempat dengan kuas dan kanvasnya, penulis menggambarkan suasana atau tempat dengan kata-kata.

Bagaimana membuat setting yang baik?
  • Setting harus terasa nyata, dimana pembaca akan merasa seolah-olah ia berada ditempat tersebut dan mengalaminya sendiri. Walau bisa jadi penulis belum pernah ke tempat tersebut. Contohnya Winnetou-nya Karl May, penulis jerman yang menulis tentang indian amerika padahal belum pernah ke amerika sebelumnya.
  • Seperti juga karakter, setting harus terasa secara 3 dimensi.
  • Jika memungkinkan datangilah tempat tersebut. Jangan hanya melihat gambar besarnya, tapi juga lihat detil.
  • Pergunakan semua aspek indrawi untuk menangkap detil. Contohnya warna tanaman (mata), bau makanan (hidung), bunyi engsel (telinga), rasa air (lidah), halusnya beludru (kulit), dan sebagainya. Menurut penelitian, ada 2 unsur indrawi yang paling mudah melekat dalam ingatan manusia, mata dan bau.
  • Berikan karakter pada setting tersebut. Don’t take it for granted. Detil kecil akan membedakan dan membangkitkan rasa suatu tempat.
  • Untuk setting imajiner, tetap pastikan untuk memasukan karakter/unsur nyata untuk memudahkan pemahaman pembaca.
  • View outside in. Bantu pembaca untuk melihat dari luar.
  • Lihatlah dengan cara yang berbeda. Jangan sekedar bagai mendeskripsikan foto. Re-create a scene don’t describe it.
  •  Berikan nama pada detil. Contoh, tambahkan trembesi - bukan sekedar pohon, angora - bukan sekedar kucing. Pelajari segala macam nama untuk memberikan kesan kredibel dan luasnya wawasan penulis. Laskar pelangi sempat dikritik karena terlalu banyak memberikan nama latin dalam cerita.
  •  Show don’t tell. Contohnya untuk menyebutkan bahwa ada debu tebal di kusen jendela, bisa dengan menggambarkan bagaimana jari si tokoh menjadi berdebu setelah memegang jendela.
  • Seperti kamera, pastikan menggunakan long shoot, medium shoot dan close up. Jangan hanya satu. Beri gambaran seluruh orang dalam ruangan dengan long shoot, tampilkan satu orang dengan medium shoot, dan jangan lupa di close up jerawatnya, garis alisnya, atau tahi lalatnya.
  • Ada interfensi manusia di dalam setting. Masukkan reaksi manusia. Contohnya rasa kesal karena keterlambatan kereta, ekspresi wajah, dan sejenisnya.
  •  Penulis perlu melatih kepekaan indrawi dalam suatu setting. Bisa dengan memvisualisasikan suatu tempat. Jalani sebuah sekuense. Apa yang dilihat pertama saat membuka pintu, kemudian apa yang terasa, dan seterusnya.


Bagaimana memilih setting yang tepat?

  • Terkadang cerita atau karakter memilih sendiri settingnya. Itu tidak masalah selama cukup kredibel. Menulis itu memang terkadang seperti gaib dimana karakter dan setting berjalan sendiri.
  • Pertimbangkan apa yang ditawarkan suatu tempat dari sisi dramatisnya. Ada istilah isolasi dalam setting, dimana karakter ‘terjebak’ dalam suatu tempat tertentu. Contohnya Hogwart dalam Harry Potter, Pondok Madani dalam N5M, terjebak dalam lift atau kereta yang kecelakaan, cuaca ekstrim dan sejenisnya.
  • Pilih setting yang konkrit dan bisa disentuh. Sediakan petunjuk-petunjuk indrawi (apa yang terlihat, tercium, teraba, terdengar, terasa)

Kumpulkan sebanyak mungkin detil untuk setting, setelah itu baru diseleksi mana yang perlu dimasukkan ke dalam suatu cerita. Berikut beberapa pedoman untuk menseleksi detil mana yang perlu dimasukkan:

  • Fokus pada detil yang unik dan tidak biasa
  • Hargai kepintaran pembaca dengan tidak perlu mengungkapkan seluruhnya. Contohnya penggambaran sepotong gaun panjang putih berenda, dimana asosiasi pembaca akan langsung tahu bahwa itu gaun pengantin. Imajinasi pembaca akan lebih luas dengan menampilkan sedikit.
Hampir saja ketinggalan sebuah tips menarik dari Bang Fuadi yang didapatnya saat belajar di Amerika. Bacakan atau suarakan tulisanmu. Ini juga yang menjadi alasan, kenapa Bang Fuadi selalu meminta kita untuk menjelaskan secara lisan apa yang kita tulis, walau beliau sebenarnya sudah tahu apa isinya. Ternyata tanpa disangka kita bisa belajar dari situ. Tidak percaya? Coba dulu sendiri deh.

Tugas pertemuan 6:
1. Tulisan minimal 2 halaman yang menggambarkan setting seperti materi yang telah disampaikan hari ini (penggunaan lensa yang berbeda, unik, reaksi karakter, show don’t tell, dan sebagainya) dari proyek akhir masing-masing. Usahakan untuk mengunjungi langsung lokasi setting untuk bisa menangkap lebih banyak. Dikumpulkan Minggu, 24 Agustus 2014 pukul 9.00. Mohon diingat, jika melewati deadline, tugas tidak akan diterima.
Tugas dapat diberikan juga kepada teman peer-nya untuk direview. Review mohon disampaikan dalam bentuk point-point. Tidak perlu dikumpulkan saat ini. pastikan bahwa review berjalan dengan baik.

2. Siapkan pertanyaan tentang Dialog untuk pertemuan ke-7 Sabtu, 6 September 2014 pukul 9.00.

Komentar